surasa edt
Goresan Pena Penembus Batas: Inspirasi Literasi dari SMPN 4 Bengalon

Goresan Pena Penembus Batas: Inspirasi Literasi dari SMPN 4 Bengalon

Dunia literasi seringkali dianggap sebagai barisan teks kaku yang membosankan di dalam buku paket, namun belakangan ini, Pendidik SMPN 4 Bengalon membawa cerita berbeda yang menghangatkan suasana. Semangat baru ini hadir melalui dedikasi dua sosok inspiratif, Ibu Yuliana Palinggi dan Ibu Dian Tri Rahayu. Keduanya membuktikan bahwa menulis adalah cara paling elegan untuk mengabadikan jejak pikiran dan perasaan. Melalui program Menulis Buku Gratis (MBG) dari Nyalanesia, ide-ide tulus dari para pendidik ini kini resmi bersinar di kancah literasi nasional dalam bentuk karya nyata.

Langkah produktif ini diawali oleh Yuliana Palinggi yang melalui puisinya berjudul “Rumah Sederhana”, mengajak kita semua untuk merenungkan kembali makna kenyamanan yang hakiki. Lewat diksi yang menyentuh, sang pendidik seolah membisikkan pesan bahwa kebahagiaan sejati tidak melulu soal kemewahan fisik, melainkan tentang ketulusan yang tumbuh di dalam sebuah hunian.

 

Seirama dengan kedalaman rasa tersebut, Dian Tri Rahayu pun menorehkan suasana haru melalui karyanya yang berjudul “Tempat Terakhirku Disamping Bapak”. Puisi ini bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan sebuah ruang rindu yang jujur tentang sosok ayah, yang mampu membawa siapa pun pembacanya terhanyut dalam emosi yang tulus.

Pencapaian ini sesungguhnya menjadi pengingat atau “alarm” semangat bagi seluruh keluarga besar SMPN 4 Bengalon. Di tengah padatnya jadwal mengajar dan tanggung jawab di sekolah, kedua guru tersebut masih mampu memahat perasaan menjadi karya yang abadi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa literasi itu hidup dan bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki keberanian untuk mulai menggoreskan pena. Menulis ternyata sesimpel memindahkan apa yang ada di hati ke dalam lembaran kertas, lalu membiarkan dunia ikut merasakannya.

Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik api semangat bagi generasi muda di sekolah untuk tidak ragu dalam berkarya. Jika para guru telah memberikan contoh nyata tentang indahnya menjadi seorang penulis, maka kini saatnya para siswa mengambil peran. Jangan biarkan ide-ide brilian hanya mengendap di kepala atau sekadar menjadi status media sosial yang cepat berlalu. Mari jadikan dedikasi beliau berdua sebagai inspirasi untuk mulai menulis cerita, puisi, atau apa pun yang disukai. Sebab pada akhirnya, dunia akan lebih mengenal kita melalui karya-karya yang kita tinggalkan. Selamat untuk guru-guru hebat kita, mari kita teruskan tongkat estafet literasi ini bersama-sama.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait