Black and White Photo International Men's Day Poster (2)
Awan dan Sepatu Super

Awan dan Sepatu Super

Oleh : Husnatuzzakiyah 

Pernah ada waktu dimana segala sesuatu yang kita alami rasanya seperti berada di balik tirai kabut yang tebal – kamu tahu kan, kayak pas musim penghujan di sini Balikpapan, langit selalu mendung dan udara penuh dengan kesedihan yang tidak terucapkan? Nah, kisah ini tentang Riko, anak laki-laki berumur belasan tahun yang hidupnya benar-benar seperti itu dulu.

Dia tinggal sama ibu dan saudari bernama Regina di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Ibu mereka bekerja sebagai penjaga toko bahan bangunan, sedangkan Regina yang lebih tua satu tahun selalu jadi sorotan karena prestasinya di sekolah. Riko sih, bukan orang yang bodoh atau tidak mau berusaha – cuma aja, setiap kali dia mencoba menunjukkan apa yang bisa dia lakukan, selalu ada sesuatu yang membuatnya terlihat kurang baik dibanding saudari perempuannya.

“Salah kamu kan yang merusak cat tembok di kamar itu, kan Riko?”

Suatu sore, suara ibu yang sudah lelah itu terdengar seperti guntur di telinganya. Regina berdiri di belakang ibu, wajahnya penuh dengan kesusahan yang kayaknya dibuat-buat. Padahal jelas-jelas tadi siang Riko melihat Regina sedang main-main dengan kuas cat yang baru dibeli ibu untuk mengecat kamar tamu. Tapi ketika dia mau menjelaskan, bibirnya seperti terikat.

“Bukan aku yang ngelakuin itu, Bu…,” ucap Riko pelan, matanya sudah mulai berkaca-kaca.

Ibu hanya menghela nafas panjang. “Kamu bohong lagi, Riko. Sudah berapa kali aku maafin kamu, tapi kamu nggak pernah mau jujur. Mulai sekarang, aku nggak bakal percaya kamu lagi kalau kamu nggak bisa buktiin diri kamu sendiri!”

Kata-kata itu seperti batu besar yang dilempar ke dada Riko. Dia merasa tubuhnya jadi berat banget, kayak sedang membawa beban yang nggak bisa dia lepaskan. Tanpa bilang apa-apa lagi, dia mengambil jaketnya dan keluar rumah pelan-pelan. Kaki secara otomatis membawanya ke taman kota kecil yang selalu jadi tempat perlindungannya – tempat di mana dia bisa duduk diam dan hanya menyaksikan awan-awan yang melintas di atas langit biru yang kadang-kadang muncul di antara mendung.

Taman itu sepi banget sore itu. Hanya suara angin yang menyapu dedaunan pohon dan kadang-kadang suara cicak yang berlari di atas batu bata taman. Riko duduk di bangku kayu yang selalu jadi tempatnya – bangku yang menghadap langsung ke pohon beringin besar yang sudah ada sejak dia masih kecil. Dia menyandarkan punggungnya ke batang pohon, lalu menarik napas dalam-dalam sambil menatap langit yang mulai berubah warna dari biru jadi oranye keemasan.

“Sini, nak… Kamu kayaknya sedang sedih banget ya?”

Suara yang lembut itu membuat Riko terkejut banget. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang perempuan yang mengenakan baju warna putih keperakan dengan rok panjang yang bergelombang setiap kali angin menerpa. Wajahnya lembut dan matanya kayak punya cahaya tersendiri, bikin Riko jadi nggak bisa berbicara duluan.

Perempuan itu duduk berdampingan dengannya, tidak terlalu dekat tapi cukup buat bikin Riko merasa lebih tenang. “Aku liat kamu sering kesini ya? Kadang aku juga nemuin kamu duduk nonton awan dari sini,” lanjut dia sambil tersenyum lembut. “Kalau kamu mau cerita aja, nggak apa-apa kok.”

Tanpa sadar, Riko mulai membuka hati dan ceritain semua yang terjadi – tentang bagaimana Regina selalu jadi yang terbaik, bagaimana ibu selalu lebih percaya sama saudari nya, dan tentang tuduhan yang baru saja dia terima. Sambil cerita, air matanya yang sudah menumpuk lama akhirnya keluar deras-deras. Dia nangis tanpa perlu bersembunyi, kayak anak kecil yang baru saja menemukan tempat aman setelah berkeliaran jauh.

Setelah Riko selesai cerita dan nafasnya mulai kembali tenang, perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya – sepasang sepatu olahraga warna biru muda dengan garis-garis emas yang bercahaya lembut, bahkan di tempat yang sudah mulai gelap karena matahari mulai tenggelam.

“Sepatu apa ini, Bu?” tanya Riko bingung, matanya jadi fokus sama sepatu yang terlihat begitu unik.

Perempuan itu menjelaskan dengan suara yang penuh makna, “Ini adalah sepatu super yang bisa mengubah jalan cerita seseorang lho, nak. Banyak orang yang pernah merasakan kesusahan kayak kamu, dan sepatu ini muncul buat mereka yang benar-benar butuh bantuan. Coba kamu pakainya sekarang aja.”

Riko melihat sepatu itu dengan mata penuh keraguan, tapi rasa penasaran akhirnya menang. Dia melepas sepatunya yang sudah aus dan mengenakan sepatu misterius itu. Saat sol sepatunya menyentuh tanah, langsung aja ada rasa hangat yang menyebar dari kaki sampai ke ujung rambutnya. Tanpa dia sadari, tubuhnya mulai terangkat perlahan dari permukaan tanah – seperti sedang dinaungi oleh kekuatan lembut yang tidak bisa dilihat mata telanjang.

“Yuk, kita ke atas sana,” kata perempuan itu sambil mengangkat tangannya ke arah langit.

Riko merasa badan jadi kayak balon udara yang ringan banget, perlahan tapi pasti dia naik ke atas – melewati puncak pohon beringin, melewati atap rumah-rumah di sekitar taman, sampai akhirnya sampai di antara lapisan awan yang lembut kayak kapas besar. Dia kagum banget melihat pemandangan dari atas sana – kota yang biasanya terlihat biasa aja sekarang jadi sangat cantik dengan lampu-lampu yang mulai menyala kayak bintang jatuh ke bumi.

Setelah beberapa saat terbang menyusuri awan-awan yang berwarna putih keemasan karena sinar matahari sore, mereka sampai di sebuah tempat yang benar-benar ajaib. Di tengah awan, ada sebuah pemukiman kecil dengan rumah-rumah yang terbuat dari awan dan awan yang di bentuk jadi taman dengan bunga-bunga yang bercahaya. Orang-orang di sana sedang sibuk melakukan aktivitas mereka – ada yang bermain musik dengan alat yang terbuat dari ranting dan daun, ada yang memasak makanan yang baunya sangat harum, dan semua orangnya punya senyum yang tulus dan hangat.

“Selamat datang di Dunia Awan, Riko,” ucap perempuan itu dengan senyum. “Di sini, setiap orang punya nilai mereka sendiri – tidak ada yang di bandingin sama yang lain.”

Riko langsung merasa seperti menemukan rumah yang sebenarnya dia cari. Di sana, dia bisa bebas menunjukkan bakatnya yang sebenarnya – ternyata dia pandai banget menggambar dan bisa membuat patung-patung kecil dari awan yang bisa berubah bentuk sesuai keinginannya. Orang-orang di sana sangat menghargai karya-karyanya, dan dia punya banyak teman baru yang selalu mendukungnya.

Setiap hari di Dunia Awan itu selalu menyenangkan. Dia belajar banyak hal baru – mulai dari cara membuat awan jadi bentuk yang indah, sampai cara berkomunikasi dengan makhluk-makhluk ajaib yang tinggal di antara lapisan awan yang lebih tinggi. Tidak ada lagi tuduhan atau perbandingan – di sana, dia cuma Riko yang dihargai apa adanya.

Di malam hari, dia seringkali duduk di tepi pantai awan yang lembut, menatap kota di bawahnya yang sudah terbenam dalam kegelapan dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Kadang dia merindukan ibu dan Regina, tapi dia juga tahu bahwa di Dunia Awan ini dia menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang selama ini dia cari. Sepatu super itu tidak hanya bawa dia ke tempat yang ajaib, tapi juga bantu dia melihat bahwa dirinya punya nilai yang besar – cuma perlu tempat yang tepat buat itu muncul.

Dan setiap kali ada anak lain di bumi yang merasa tertekan dan tidak dihargai, Riko seringkali melihat perempuan misterius itu kembali turun ke bumi dengan sepasang sepatu super baru – siap membantu mereka menemukan jalan mereka ke Dunia Awan yang penuh dengan kebahagiaan dan penerimaan. 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait